You are here
Home > 2017 > Juli

Mengenal Al-Lajnah ad-Dâ’imah

Al-Lajnah ad-Dâ'imah lil-Buhûts al-'Ilmiyyah wal-Iftâ (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Pusat Fatwa) merupakan sebuah lembaga yang didirikan bersamaan dengan Majelis Hai'ah Kibâr al-‘Ulama (Dewan Ulama Senior) oleh Raja Faishal bin Abdil Aziz al-Saud rahimahumullâhu pada 8 Rajab 1391 / 24 Agustus 1971. Komite Tetap ini memiliki wewenang untuk mengeluarkan keputusan

Ruqyah Syirik

Jangan terkejut membaca judul tulisan ini. Bacalah hingga tuntas agar tidak salah paham. Jangan sekadar membaca judul kemudian menyimpulkan isi tulisan. Mari kita membaca ulasan berikut ini huruf demi huruf. Judul tulisan ini, saya ambil dari perkataan manusia yang mulia Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud

Pembagian Tauhid Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Siapa yang tak kenal dengan Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullâhu? Seluruh kaum Muslimin terutama mereka yang bergerak di dunia dakwah pastilah mengenal beliau. Ya! Beliau adalah seorang ulama yang dimiliki oleh ummat ini. Seorang ulama yang tidak hanya berdakwah dengan lisannya. Akan tetapi penanya pun ikut memberi andil terhadap dakwah Islam. Salah

Hukum Memakai Niqab

Cadar Sudah Ada Sejak Zaman Nabi Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang akan berihram. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para wanita, لاَ تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقَفَّازَيْنِ “Wanita yang berihram itu tidak boleh mengenakan niqab maupun kaos tangan.” Niqab adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [8]

Saddu Dzarai’ Yaitu melarang suatu hal yang zhahirnya adalah boleh jika hal tersebut menjadi sarana terjadinya hal yang haram. (Lihat: Al-Fatawa al-Kubra, 3/256 dan I’lam al-Muwaqqi’i, 3/135). Dan dasar hukum ini terbangun atas kenyataan bahwa ibrah (yang menjadi pertimbangan) dalam syarat adalah tujuan dan niat, dan bahwa mempertimbangkan konsekuensi dan akibat perbuatan adalah diakui

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [7]

Istishhab Adalah melestarikan penetapan yang telah ditetapkan sebelumnya atau peniadaan apa yang tidak ada sebelumnya. Atau yang dimaksud adalah tetap pada hukum asal dalam hal yang belum diketahui ketetapannya atau ketiadaannya dnegan hukum syar’i. (Lihat: Majmu’ Fatawa, 11/342). Dan istishhab adalah hujjah menurut Imam Ahmad rahimahullahu ketika tidak ada dalil yang berupa nash, atau ijma’,

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [6]

Istihsan Adalah meninggalkan keniscayaan qiyas kepada dalil yang menurut seorang mujtahid lebih kuat darinya; dan jenis istihsan ini diakui oleh Imam Ahmad rahimahullahu karena dalil tersebut menguatkannya. Dan jika ia tidak memiliki sandaran kecuali hawa nafsu, maka ini yang diingkari oleh Imam Ahmad. (Lihat: Al-‘Uddah fi Ushul Fiqih, 4/1604; Raudhatun an-Nadhir, 2/31; dan Ushul Madzhab Imam

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [5]

Qiyas Dan qiyas yang diakui Imam Ahmad rahimahullahu adalah qiyas masalah furu’ pada permasalahan pokok yang ada nashnya jika menyerupainya dalam segala hal, dan disebut dnegan qiyyas ‘illah. Imam Ahmad mengatakan dalam riwayat Al-Hasan bin Hasan: “Qiyas adalah menganalogikan sesuatu kepada hukum pokok jika semisal dengannya dalam segala hal.” (Lihat: Al-Musawwadah, hal. 732). Dan di

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [4]

Mengambil Hadits Mursal dan Lemah sebagai Dalil Jika Tidak Ada Dalil yang Menyanggah Persoalan Tersebut Hadits mursl adalah hadits yang sanad terakhirnya setelah tabi’in terputus. Atau apa yang dinisbatkan olrh tabi’in kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; di mana seorang tabi’in mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda”. Dan ini adalah pengertian hadits

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [3]

Fatwa Sahabat Jika Tidak Ada yang Menentangnya Jika Imam Ahmad rahimahullahu menemukan fatwa dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diketahui ada yang menentangnya, maka ia menggunakannya dan tidak beralih pada yang lain, dan ia mendahulukannya atas pendapat, amal –bisa jadi yang dimaksud di sini ialah amal penduduk Madina–, qiyas, hadits mursal,

Top