You are here
Home > Adab Akhlak > Berbicaralah dengan Benar atau Diam

Berbicaralah dengan Benar atau Diam

Dalam sebuah atsar dari Maimun bin Mihran rahimahullahu, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhu seraya berkata: “Berilah nasihat kepadaku.” Ia (Salman radhiallahu ‘anhu) berkata: “Janganlah engkau berbicara.” Ia menjawab, “Orang yang hidup di tengah masyarakat tidak mampu untuk tidak berbicara.” Ia (Salman radhiallahu ‘anhu) berkata: “ Jika engkau berbicara, berbicaralah dengan benar atau diam.” (Sifatu Shafwah, 1/549).

Berbicaralah dengan benar atau diam merupakan wasiat yang indah, yang menjadi salah satu adab dalam bermuamalah dengan manusia. Berbicara sekarang ini tidak melulu harus bertemu muka dengan lawan bicara secara langsung apalagi di era teknologi yang semakin canggih. Dan berbicara kini tidak hanya dimaknai perkataan yang keluar dari lisan saja akan tetapi perkataan yang tertulis dengan saling balas pun dimaknai dengan berbicara. Maka, tetap saja kita harus menjaga adab salah satunya ialah berbicara dengan baik atau diam. Sayangnya, seiring derasnya arus informasi adab ini kurang diindahkan.

Apalagi di masa akhir-akhir ini, tidak sedikit fitnah yang menimpa kaum Muslimin. Berbagai fitnah tersebut memunculkan banyak komentar dari orang-orang yang tidak layak untuk memberikannya. Malahan, komentar mereka ini semakin menyulut kebencian sesama muslim sendiri. Mereka kurang bahkan tidak bisa mengontrol lisan mereka. Sehingga keluar dari lisan-lisan itu perkataan yang tak pantas.

Padahal Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kepada kita untuk berkata dengan perkataan yang benar dan Dia memberikan balasan berupa pahala bagi orang-orang yang mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” [QS Al-Ahzab: 70 -71].

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar tetap bertakwa kepada-Nya dan menyembah-Nya dengan penyembahan sebagaimana seseorang yang melihat-Nya, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar, yang jujur, tidak bengkok, tidak pula menyimpang. Lalu Allah menjanjikan kepada mereka jika mereka melakukan perintah-perintah-Nya ini, Dia akan memberi mereka pahala dengan memperbaiki amal perbuatan mereka. Yakni Allah memberi mereka taufik untuk mengerjakan amal-amal yang saleh, dan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang terdahulu. Sedangkan dosa yang akan mereka lakukan di masa mendatang, Allah akan memberi mereka ilham untuk bertobat darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/487).

Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu berkata,  “Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam  bersabda:
“Takutlah engkau semua kepada neraka, sekalipun dengan jalan bersedekah dengan potongan kurma, maka barangsiapa yang tidak dapat menemukan itu, maka hendaklah bersedekah dengan mengucapkan perkataan yang baik.” [Muttafaq ‘alaih].

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan mengucapkan perkataan yang baik itu adalah merupakan sedekah.” [Muttafaq ‘alaih].

Dan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.“ [Muttafaq ‘alaih].

Setelah menyimak firman-Nya dan membaca sabda manusia pilihan yang merupakan teladan yang baik bagi umat ini. Maka, alangkah indahnya adab orang-orang yang masih memperhatikan perkataannya dan tidaklah mereka berkata kecuali perkataan yang baik dan benar; kemudian betapa buruknya orang-orang yang masih saja tidak mampu mengontrol perkataannya dan mereka asyik masygul dengan ucapan-ucapan yang tak pantas tersebut.

Akhir kalam, sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi-Nya shallallah ‘alaihi wa sallam.

@Rumah kontrakan TMA, 21 Rabi’ul Awal 1438

Saudaramu yang sedang memperbaiki diri,
Abu ‘Aashim Nanang Ismail as-Sibindunji

Nanang Ismail
Seorang guru dan pembelajar. Lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, pernah menjadi santri mukim di Ma'had Jamilurrahman Yogyakarta, dan alumni angkatan kedua Ma'had Online Ibnu Qudamah Bandung.
https://abuashim.com

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
6 Landasan Utama dalam Beragama

Al-Imamud Dakwah Al-Mujaddid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman at-Tamimi an-Najdi al-Hanbali rahimahumullahu merupakan sosok seorang ulama yang aktif mendakwahkan tauhid...

Close