You are here
Home > Adab Akhlak > Bersabarlah Niscaya Kebaikan Bagimu

Bersabarlah Niscaya Kebaikan Bagimu

Menjalani kehidupan di dunia penuh dengan ujian yang diberikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla untuk hamba-hamba-Nya. Dengan diberikannya ujian tersebut maka akan diketahui siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang termasuk orang-orang yang bersabar sehingga Allah ‘Azza wa Jalla dapat menyatakan baik buruknya keadaan hamba tersebut.

Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ikhwalmu.” [QS Muhammad: 31].

Sabar secara bahasa diambil dari kata shabara – yasbiru – shabran yang bermakna menahan, tidak berkeluh kesah [1]. Disebutkan juga bahwa sabar ialah menahan dan mengendalikan, seperti perkataan seseorang: fulan terbunuh karena ia sabar. Maksudnya apabila dia mengendalikan dan menahan diri. [2].

Sedangkan secara istilah sabar bermakna menahan diri dari hal-hal yang Allah haramkan lalu menguatkannya dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya [3]. Kalimat sabar banyak tertera di dalam Al Qur`an yang mulia lebih dari sembilan puluh tempat dan ia merupakan sifat Allah ‘Azza wa Jalla. 

Al Imam Ahmad rahimahullâhu berkata:

ذكر الله تعالى في تسعين موضعا من كتابه

“Allah menyebutkan sabar pada sembilan puluh ayat dalam kitab-Nya.” [4]

Dalam sebuah hadits shahih dikatakan:

الصبر ضياء

Sabar adalah cahaya.” [5]

Al Imam Al Baihaqi rahimahullâhu berkata:

“Hakikat sabar adalah menahan jiwa dan menjaganya dari kedukaan, kebencian, dan dari keluh kesah lidah dengan kokoh terhadap hukum-hukum Al Qur`an dan sunnah. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallâhu ‘anhu berkata, ‘Kesabaran adalah bagian dari keimanan yaitu menduduki posisi kepala dari badan, barangsiapa yang tidak sabar maka tidak ada iman baginya seperti jasad yang tidak memiliki kepala.’ Sabar merupakan perkara yang yang besar dan sangat bermanfaat karenanya Allah menjelaskan di dalam Al Qur`an dalam ayat yang sangat banyak. Hukum sabar adalah wajib menurut kesepakatan ulama. Semoga Allah memberikan kita kesabaran terhadap segala hal yang kita benci.” [6]

Mintalah Pertolongan dengan Sabar dan Shalat
Allah Subhânahu wa Ta’âla memerintahkan hamba-hamba-Nya agar menggunakan sabar dan shalat sebagai sarana penolong dalam menghadapi beban hidup dan kesulitannya, karena di belakangnya terdapat kebaikan dan akibat yang terpuji.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” [QS Al Baqarah: 45].

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullâhu berkata:

“Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mereka dapat meraih kebaikan dunia dan akhirat yang mereka dambakan, yaitu menjadikan sabar dan shalat sebagai sarananya. Demikian yang dikatakan oleh Muqatil Ibnu Hayyan rahimahullâhu dalam tafsir ayat ini, yaitu: ‘Minta tolonglah kalian untuk memperoleh kebaikan akhirat dengan cara menjadikan sabar dalam mengerjakan amal-amal fardhu dan shalat sebagai sarananya.’” [7]

Hal ini merupakan petunjuk tentang pentingnya sabar, kebutuhan seorang mukmin kepada sikap sabar, dan bahwa sabar termasuk pilar aqidah, bagian dari keimanan.

Jangan Bersedih Kebaikan Bagimu
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS Al Thaghabun: 11]

‘Alqamah rahimahullâhu berkata:

“Maksudnya adalah seorang lelaki yang ditimpa musibah, dan dia mengetahui bahwa ia dari sisi Allah, maka dia ridha dan menerima.” [8]

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullâhu mengatakan:

“Yakni siapa yang ditimpa musibah, dia mengetahui bahwa hal tersebut terjadi dengan takdir Allah, lalu dia besabar, berharap pahala dari Allah, menerima Qadha` Allah niscaya Allah membimbing hatinya, mengganti apa yang hilang darinya dari karunia dengan hidayah, keyakinan, dan kebenaran dalam hatinya; dan bisa jadi Allah memberinya ganti apa yang Dia ambil darinya.” [9]

Sa’id bin Jubair rahimahullâhu berkata tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” [QS Al Thaghabun: 11].

Maksudnya ialah mengucapkan istirja’.

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.” [QS Al Baqarah: 156].

Dalam ayat yang mulia ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa amal perbuatan adalah bagian dari iman, juga dalil yang menunjukkan bahwa sabar adalah sebab hidayah bagi hati, serta dalil yang menunjukkan bahwa seorang mukmin membutuhkan sabar dalam setiap keadaan. Dia membutuhkannya di depan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya dengan mengikat dirinya untuk menaati-Nya. [10]

Allah Subhânahu wa Ta’âla menurunkan berbagai musibah atas hamba-hamba-Nya karena adanya hikmah-hikmah yang besar. Di antaranya, Allah melebur kesalahan-kesalahan mereka dengannya, sebagaimana dalam sebuah hadits dari Sahabat Anasradhiallâhu ‘anhu, bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia menyegrakan hukuman baginya di dunia; dan bila Allah menghendaki keburukan bagi hamba-Nya, Dia menahan dosanya untuk Dia balas secara penuh pada Hari Kiamat.” [11]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata:

“Musibah-musibah adalah kenikmatan, sebab ia melebur dosa-dosa. Musibah mengajak kepada kesabaran yang berpahala, musibah menuntun kembali kepada Allah dan merasa rendah di hadapan-Nya serta berpaling dari manusia, dan masih banyak mashlahat-mashlahat agunng lainnya. Dengan ujian itu sendiri Allah menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan. Maka ia termasuk nikmat yang teragung.

Musibah adalah rahmat dan nikmat pada seluruh makhluk, namun karenanya orang yang ditimpa musibah mungkin masuk ke dalam dosa yang lebih besar dari sebelumnya, sehingga ia menjadi keburukan baginya dari sisi apa yang menimpanya dalam agamanya.

Di antara manusia, ada yang jika diuji dengan kemiskinan, penyakit, atau rasa sakit, maka dia menjadi munafik, bersedih berlebih-lebihan; hatinya berpenyakit terjerumus ke dalam kekafiran yang nyata, meninggalkan sebagian kewajiban dan menjalankan sebagian larangan di mana hal itu mengakibatkan kerusakan di dalam agamanya. Keselamatan dari musibah bagi orang ini adalah lebih baik dari sisi akibat yang ditimbulkan oleh musibah bukan dari sisi musibah itu sendiri. Sebagaimana orang yang ditimpa musibah bersabar dan malah semakin taat, maka musibah ini baginya merupakan nikmat agama. Musibah itu sendiri merupakan perbuatan Tuhan sekaligus rahmat bagi makhluk, dan dalam perkara ini Allah tetap terpuji karenanya.

Siapa yang menerima ujian lalu dia dikarunikan kesabaran, maka kesabaran ini adalah nikmat dalam agamanya, setelah itu dia meraih apa yang melebur kesalahan-kesalahannya sebagai sebuah rahmat, dan dia juga meraih shalawat dari Tuhanya karena pujian kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, (yang artinya) “Mereka itulah yang memperoleh shalawat (pujian dan rahmat) dari Tuhan mereka.” [QS Al Baqarah: 157].

Dia meraih ampunan bagi dosa-dosa dan derajat-derajat yang tinggi. Siapa yang mempunyai kesabaran yang wajib, maka dia mendapatkan kedudukan itu.” [12]

Maka, sebaik-baik manusia ialah yang mau bersabar atas ujian yang Allah ‘Azza wa Jallaberikan kepadanya. Dan seburuk-buruk manusia ialah yang ingkar kepada-Nya dan terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata.

Wallâhu ‘alam.

Perum Taman Manunggal Asri, 15101438
Untuk istriku – Ummu ‘Aashim –  yang Allah sedang mengujinya. Bersabarlah, karena sabar cermin akhlak yang baik.

Suamimu,
Abu ‘Aashim Nanang Ismail as-Sibindunji.

Artikel: abuashim.com

Catatan Kaki:
[1] Lihat Al Mu’jam Al Wasith lema- يصبر – صبرا    صبر hal. 525.
[2] Lihat Al Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân jilid 1 hal. 340.
[3] Lihat 40 Karakteristik Mereka yang Dicintai Allah hal. 77.
[4] Lihat Al Irsyâd ila Shahîhil ‘Itiqâd hal. 155.
[5] Shahih. HR Muslim dalam Kitâb Al Thahârah Bâb Fadhlil Wudhû`i, no. 223.
[6] Lihat 77 Cabang Keimanan hal. 150 – 151.
[7] Lihat Tafsîr Al Qur`an Al ‘Azhîm jilid 1 hal. 251.
[8] Lihat Al Irsyâd ila Shahîhil ‘Itiqâd, hal. 155 – 156.
[9] Lihat Tafsîr Al Qur`an Al ‘Azhîm jilid 4 hal. 736.
[10] Lihat Al Irsyâd ila Shahîhil ‘Itiqâd, hal. 156.
[11] Hasan. HR Al Tirmidzi no. 2401 dan Ahmad no. 16929 dinukil dari Al Irsyâd ila Shahîhil ‘Itiqâd, hal. 158.
[12] Lihat Al Irsyâd ila Shahîhil ‘Itiqâd, hal. 158 – 159.

Daftar Pustaka:
Al Arabiyyah, Majma’ Al Lughah. 2011. Al Mu’jam Al Wasith. Kairo: Maktabah Al Syuruq Al Daulah.
Al Baihaqi, Al Imam. 2014. 77 Cabang Keimanan. Jakarta: Darus Sunnah.
Al Dimasyqi, Ibnu Katsir. 1999. Tafsîr Al Qur`an Al ‘Azhîm. Riyadh: Dâr Al Thayyibah
Al Fauzan, Shâlih bin Fauzan. 2006. Al Irsyâd ila Shahîhil ‘Itiqâd wa Al Radu ‘ala Ahli Al Syirki wa Al Ilhâd. Mesir: Mu`asasah Al Shahâbah.
Al Khalafi, Abdul ‘Azhim bin Badawi. 2016. 40 Karakteristik Mereka yang Dicintai Allah. Jakarta: Darul Haq.
Al Nisâbûri, Muslim bin Al Hajjâj. 2010. Shahih Muslim. Tarqîm wa Tartîb Muhammad Fu`ad Abdul Bâqi. Kairo: Dâr Al Hadîts.
Al Qurthubi, Muhammad bin Ahmad. 1994. Al Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân. Kairo: Dâr Al Hadîts.

Nanang Ismail
Seorang guru dan pembelajar. Lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, pernah menjadi santri mukim di Ma'had Jamilurrahman Yogyakarta, dan alumni angkatan kedua Ma'had Online Ibnu Qudamah Bandung.
https://abuashim.com

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [2]

Ijma’ Yaitu kesepakatan para mujtahid dari umat ini pada masa tertentu atas permasalahan syar’i setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa...

Close