You are here
Home > Aqidah Ahlussunnah > Ke Mana dan Bagaimana Kondisi Ruh Orang yang Meninggal Dunia?

Ke Mana dan Bagaimana Kondisi Ruh Orang yang Meninggal Dunia?

Setiap insan pasti akan meninggal dunia. Tidak mengenal usia, waktu, dan tempat. Kita semua sedang menunggu kapan kematian kita tiba. Lalu, jasad  yang rapuh itu akan dikebumikan. Lantas, ke manakah ruh orang yang meninggal dunia itu?

Kami menyuguhkan ke hadapan pembaca sebuah fatwa dari Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajjid hafizhahullahu yang kami ambil dari website beliau Islam Question and Answer dengan beberapa penyesuaian.

Pertanyaan : Ketika seseorang meninggal dunia dan dikuburkan pada hari setelahnya, apakah ruhnya tergantung saat belum dikuburkan? Apa yang terjadi padanya?

Jawaban:

Alhamdulillah

Pertama:

Diriwayatkan Imam Ahmad, no. 17803 dari Barra’ bin Azib dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنْ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنْ الآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلائِكَةٌ مِنْ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ : أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ : فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ قَالَ : فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلا يَمُرُّونَ يَعْنِي بِهَا عَلَى مَلإٍ مِنْ الْمَلائِكَةِ إِلاّ قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ فَيَقُولُونَ فُلانُ بْنُ فُلانٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الأَرْضِ فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى ، قَالَ: فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ

“Sesungguhnya seorang hamba yang beriman, ketika terputus dari dunia dan memulai (kehidupan) akhirat, para malaikat turun kepadanya dari langit, wajahnya putih, wajah mereka seperti matahari. Bersamanya kain kafan dari surga dan minyak wangi dari surga. Sampai mereka duduk sejauh mata memandang. Kemudian didatangkan malaikan maut alaihissalam. Lalu dia duduk di kepalanya seraya mengatakan, “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah. Maka (ruh) keluar lepas seperti tetasan air yang mengalir dari tempat minuman. Maka dibawanya ruh itu dengan sepenuh perhatian tidak lengah sedikipun. Lalu dibawa dan diletakkan di kafan itu dengan minyak wangi itu, sehingga keluar darinya bau sangat wangi yang didapatkan di atas bumi. Berkata, “Kemudian dia dibawa naik olehnya, tidaklah melewati sekumpulan malaikat kecuali mereka mengatakan, “Apa gerangan ruh yang baik ini?” mereka menjawab, “Ini fulan bin fulan.” dengan menyebutkan nama terbaiknya yang mereka namakan di dunia. Hingga selesai dari langit dunia, lalu mereka meminta izin untuk dibukakan baginya, dan dibukakan untuk mereka, dan setiap makhluk di langit ikut menghantarkan sampai ke langit setelahnya sampai selesai di langit ketujuh. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah kitab hamba-Ku ini di Illiyyin dan kembalikan dia ke bumi. Karena Saya ciptakan darinya dan ia dikembalikan dan nanti akan di keluarkan lagi. Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya, sampai datang dua malaikat dan mendudukkannya….”  kemudian disebutkan hadits tentang pertanyaan kubur.

Kemudian disebutkan mencabut ruh orang kafir dan mengatakan, “Mereka membawannya. Tidaklah mereka melewati sekumpulan malaikat melainkan mereka mengatakan, “Ruh busuk apa ini.” Mereka mengatakan fulan bin fulan, dengan nama terjelek yang mereka namakan di dunia. Sampai ke langit dunia. Dan meminta dibukakan, namun tidak dibukakan untuknya. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” [QS Al-A’raf: 40]

Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah kitabnya di Sijjin di bumi yang bawah”. Kemudian dilemparkan ruhnya begitu saja dan dibacakan ayat:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنْ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” [QS Al-Hajj: 31]

Dan ruhnya dikembalikan ke jasadnya dan dua malaikan datang dan didudukkannya…) kemudian disebutkan pertanyaan kubur.

Dinyatakan shahih Al-Albani dalam Shahih Al-Jami, no. 1676.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini disimpulkan bahwa ruh tetap setelah berpisah dari badan. Berbeda dengan kesesatan orang-orang mutakallimin yang mengatakan bahwa dia naik dan turun, juga berbeda dengan kesesatan orang ahli filsafat yang mengatakan bahwa dia dikembalikan ke badan. Hadits ini juga mengandung pemahaman bahwa mayit ditanya maka dia akan diberi nikmat atau diazab.” (Majmu Fatawa,  4/292).

Diriwayatkan Ibnu Majah, no. 4262) dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الْمَيِّتُ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ ، فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَالِحًا، قَالُوا: اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ ، اخْرُجِي حَمِيدَةً، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ ، فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، فَيُفْتَحُ لَهَا، فَيُقَالُ : مَنْ هَذَا ؟ فَيَقُولُونَ : فُلَانٌ ، فَيُقَالُ: مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ ، كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ ، ادْخُلِي حَمِيدَةً ، وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ ، فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ 

وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السُّوءُ ، قَالَ : اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ ، كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ ، اخْرُجِي ذَمِيمَةً ، وَأَبْشِرِي بِحَمِيمٍ ، وَغَسَّاقٍ ، وَآخَرَ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٌ، فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ ، ثُمَّ يُعْرَجُ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، فَلَا يُفْتَحُ لَهَا ، فَيُقَالُ : مَنْ هَذَا ؟ فَيُقَالُ: فُلَانٌ ، فَيُقَالُ : لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ ، كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ، ارْجِعِي ذَمِيمَةً ، فَإِنَّهَا لَا تُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، فَيُرْسَلُ بِهَا مِنَ السَّمَاءِ، ثُمَّ تَصِيرُ إِلَى الْقَبْرِ (صححه الألباني في صحيح ابن ماجة

“Mayit didatangi oleh Malaikat, kalau dia orang baik, para Malaikat berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang baik, dahulu berada di jasad yang baik. Keluarlah dengan mulia dan diberi kabar gembira dengan ruh dan raihan. Dan Tuhan tidak marah. Hal itu terus dikatakan seperti itu sampai (ruhnya) keluar. Kemudian dinaikkan ke langit, lalu dibukakan baginya. Maka dikatakan, “Siapa ini?” Mereka mengatakan, “Fulan.” Lalu dikatakan, “Selamat datang jiwa yang baik. Dahulu engkau berada dalam jasad yang baik. Keluarlah dengan mulia, dan beri kabar gembira dengan ruh dan raihan dan bahwa Tuhan tidak marah. Senantiasa dikatakan seperti itu sampai di langit tempat Allah Azza wa Jalla berada.

Kalau orangnya buruk,  berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang buruk, dahulu engkau berada di tubuh yang buruk. Keluarlah dalam kondisi hina. Beri kabar gembira dengan Hamim dan Gossak dan lainnya berbentuk berpasangan. Senantiasa dikatakan seperti itu sampai (ruhnya) keluar. Kemudian dinaikkan ke langit. Tidak dibukakan baginya. Dikatakan, “Siapa ini? Dikatakan,  “Fulan. Dikatakan, “Tidak ada selamat datang dengan jiwa yang buruk. Dahulu di tubuh yang jelek. Keluarlah dalam kondisi hina. Sesungguhna dia tidak dibukakan pintu-pintu langit. Maka dilemparkannya dari langit  kemudian sampai ke kuburan.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Pada dua hadits ini, ada penjelasan kondisi ruh setelah mati dan sebelum dikubur. Yaitu jika ruh seorang hamba mukmin, maka para Malaikat memberikan kabar gembira sebelum dicabut dengan ampunan dan keridhaan Allah. Kemudian diolesi minyak wangi kemudian diangkat dalam kondisi bahagia menghadap Tuhannya Subhanahu wa Taala. Maka Allah berfirman, “Catatlah kitab hamba-Ku di Illiyyin dan kembalikan dia ke bumi.” Kemudian ruh dikembalikan ke jasad asalnya. Kemudian pemiliknya ditanya di kuburan, maka Allah kuatkan dengan jawaban yang pasti dan dihamparkan kuburannya sejauh pandangan mata.

Kalau ruh orang kafir, maka para Malaikat memberi kabar gembira dengan neraka dan kemurkaan Allah, kemudian dinaikkannya dalam kondisi busuk, hina dan ketakutan. Pintu-pintu langit tidak dibukakkan. Kemudian dilemparkan ke bumi dan dikembalikan ke jasadnya. Pemiliknya mendapatkan fitnah dikuburannya dan disempitkan dan didatangkan panas dan hembusan neraka.

Masa antara dicabut ruh dan dikuburkan serta pertanyaan di kubur bagi orang beriman adalah rihlah pertama kali menuju kebahagiaan selamanya. Karena dia diberi kabar gembira dengan surga dan kenikmatan yang kekal. Ditulis pada kitabnya di Illiyyin. Di sana ruh gembira dan bahagia, tidak sengsara selamanya.

Sementara bagi orang kafir, itu adalah awal rihlah siksaan selamanya. Karena Allah murka kepadanya dan tidak diizinkan membuka pintu-pintu langit, tidak juga pintu rahmat baginya. Ditulis di kitab Sijjin, disana ruhnya sengsara, tidak bahagia selamanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Seluruh hadits shahih dan mutawatir menunjukkan bahwa ruh kembali ke badan. Permasalahannya adalah jika dikatakan badan tanpa ruh. Ini pendapat yang dikatakan sebagian orang, tetapi dingkari oleh jumhur. Begitu juga permasalahan ruh tanpa badan. Ini dikatakan oleh Ibnu Maisarah dan Ibnu Hazm. Kalau seperti itu, maka dalam kuburan tidak ada pengkhususan untuk ruh.” (Majmu Fatawa, 5/446).

Silahkan dilihat Fatawa Nurun ‘Alad Darbi karangan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, 4/310-311.

Kedua:

Permasalah ini termasuk masalah ghaib seharusnya orang muslim menerimanya tidak bertanya tentang bagaimana caranya, karena kehidupan barzah tidak seorang pun yang mengetahui cara dan esensinya kecuali Allah.

Syaikh Ibnu Utsaimin  rahimahullah ditanya, “Sesungguhnya kematian manusia maksudnya adalah keluarnya ruh dari jasad. Ketika dikuburkan apakah ruh kembali ke jasadnya atau kemana ia pergi? Jika ruh kembali ke jasad di kuburan, bagaimana hal itu?

Maka beliau menjawab, “Terdapat riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambahwa mayat ketika meninggal, maka ruhnya akan dikembalikan lagi kepadanya waktu di kuburnya. Dan ditanya tentang Tuhan, agama dan nabinya. Maka Allah kuatkan orang yang beriman dengan ucapan yang kuat di kehidupan dunia dan akhirat. Seraya orang mukmin mengatakan, “Tuhanku Allah, agamaku Islam dan nabiku Muhammad. Sementara orang kafir atau munafik, ketika ditanya dia menjawab, “Ha-ha-ha, saya tidak tahu, saya mendengar orang mengatakan sesuatu dan saya ikut mengatakannya.

Pengembalian ini –maksudnya pengembalian ruh ke badan dalam kubur- bukan seperti kejadian ruh manusia ke badannya di dunia, karena ia kehidupan barzah kita tidak mengetahui hakekatnya. Kita tidak diberi tahu tentang hakekatnya di kehidupan ini. Semua urusan ghaib yang kita tidak diberitahu tentangnya, maka kewajiban kita terhadapnya adalah tawaquf (berhenti tidak perlu mendalami). Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS Al-Isra’: 36]

(Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darbi’ karangan Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/2, dengan penomoran Syamilah)

Wallahu a’lam .

Nanang Ismail
Pemilik laman abuashim.com. Seorang guru dan pembelajar. Alumni S1 Pendidikan Bahasa Indonesia UNNES. Pernah menjadi santri mukim di Pesantren Jamilurrahman Yogyakarta. Tertarik dengan dunia pendidikan dan pemikiran Islam.
https://abuashim.com

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
Bahaya Memperolok Agama

Lagi, agama dijadikan bahan olok-olokan. Mereka mencari  uang agar orang lain tertawa dengan olok-olokannya tersebut, memalukan! Mereka memperolok agama Islam...

Close