You are here
Home > Aqidah Ahlussunnah > Ruqyah Syirik

Ruqyah Syirik

Jangan terkejut membaca judul tulisan ini. Bacalah hingga tuntas agar tidak salah paham. Jangan sekadar membaca judul kemudian menyimpulkan isi tulisan. Mari kita membaca ulasan berikut ini huruf demi huruf.

Judul tulisan ini, saya ambil dari perkataan manusia yang mulia Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud rahimahumullâhu dari Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallâhu ‘anhu, bahwasanya beliau mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن الرقى والتمائم والتولة شرك

Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” [1]

Hadits di atas terdapat di Bab Tentang Ruqyah dan Tamimah yang merupakan salah satu bab dari Kitab Tauhid karya Syaikhul Islam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi al-Hanbali rahimahumullâhu. Kitab yang banyak memiliki faedah bagi orang-orang yang mau membuka mata hati dan pikirannya.

Jadi, dalam hadits tersebut disampaikan bahwa ruqyah itu syirik. Agar pembahasan ini menjadi lengkap mari kita ketahui bersama, ruqyah seperti apakah yang termasuk syirik.

Hadits ini ada kaitannya dengan sebuah kisah istri Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallâhu ‘anhu yang bernama Zainab. Beliau berkata,

Sesungguhnya Abdullah melihat benang di leherku, maka dia bertanya, ‘Apa ini?’ Aku menjawab, ‘Benang yang telah dibacakan ruqyah untukku.’ Zainab berkata, “Maka dia mengambilnya dan memotongnya kemudian berkata, ‘Kalian wahai keluarga Abdullah, benar-benar tidak membutuhkan syirik, aku telah mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik’.

Maka aku berkata kepadanya, ‘Mataku sakit, aku datang kepada fulan seorang Yahudi, lalu dia membaca ruqyah, maka mata terasa nyaman.’ Abdullah berkata, ‘Itu hanya perbuatan setan, ia menusuknya dengan tangannya, jika dia membacakan ruqyah, maka setan berhenti darinya. Cukup bagimu mengucapkan sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

أذهب البأس رب الناس، واشف أنت الشافي لا شفاء إلا شفاؤك، شفاءً لا يغادر سقماً

Wahai Rabb manusia, hilangkanlah sakit ini, sembuhkanlah, Engkaulah yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan selain kesembuhan (dari)-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Al-Hakim berkata “Shahih” dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. [2]

Ruqyah yang Terlarang
Perlu kita ketahui bersama bahwa ruqyah ialah Al-‘Azâim (bacaan atau mantra) dan dalil mengkhusukan –dalam arti membolehkan– ruqyah yang bebas dari unsur kesyirikan, dimana Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah memberi keringanan untuk melakukannya karena terkena ‘ain dan sengatan. Demikian pula beliau memberikan keringanan untuk melakukan ruqyah dari selainnya, sebagaimana dalam Shahîh Muslim dari ‘Auf bin Malik radhiallâhu ‘anhu, dia berkata,

كنا نرقى في الجاهلية، فقلنا: يا رسول الله كيف ترى في ذلك؟ فقال: اعرضوا علي رقاكم، لا بأس بالرقى ما لم تكن شركا

“Kami meruqyah pada zaman jahiliyah, maka kami berkata, ‘Ya Rasulullah, apa pendapatmu tentang hal itu?’ Beliau menjawab, ‘Tunjukkanlah ruqyah-ruqyah kalian kepadaku, ruqyah tidak mengapa selama ia bukan syirik’.” [3]

Pada kisah Zainab istri Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallâhu ‘anhum yang telah lalu, yang dimana dia meminta ruqyah kepada seorang Yahudi itulah contoh ruqyah yang terlarang. Sebab Yahudi itu meruqyah dengan bacaan yang mengandung permohonan kepada selain Allah. Dan hal ini telah ditegaskan oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallâhu ‘anhum dengan perkatannya, ‘Itu hanya perbuatan setan, ia menusuknya dengan tangannya, jika dia membacakan ruqyah, maka setan berhenti darinya’.

Jadi, ruqyah yang terlarang ialah ruqyah yang di dalamnya ada unsur kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Inilah ruqyah syirik. Adapun ruqyah yang di dalamnya hanya nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, dan ayat-ayat-Nya serta yang ma`tsur dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka hal tersebut baik, boleh diamalkan, bahkan dianjurkan. Sebagaimana doa yang dibaca oleh Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallâhu ‘anhum di atas.

Ruqyah itu Boleh dengan Tiga Syarat
Imam Al-Khaththabi rahimahullâhu berkata:
“Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam meruqyah dan diruqyah, beliau memerintahkannya, jika ruqyah dengan Al-Qur`an dan nama-nama Allah. Maka ia boleh bahkan diperintahkan. Yang dibenci dan dilarang ialah ruqyah yang bukan dengan bahasa Arab, karena bisa jadi ia merupakan kekufuran atau ucapan yang tersisipi oleh syirik.” [4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata:
“Tidak boleh bagi seseorang meruqyah dengan menyebut nama yang tidak diketahui, lebih-lebih berdoa dengannya walaupun diketahui maknanya, karena makruh berdoa dengan selain bahasa Arab, ia hanya diizinkan bagi yang tidak mampu berbahasa Arab. Adapun menjadikan kata-kata ‘ajam sebagai syiar, maka ia bukan dari Islam. [5]

Imam As-Suyuthi rahimahullâhu mengatakan:
“Para ulama sepakat dibolehkannya ruqyah dengan tiga syarat;

  1. Hendaknya ia dengan kalamullâh atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya,
  2. Dengan lisan Arab dan doa yang diketahui maknanya, dan
  3. Hendaknya diyakini bahwa ruqyah itu sendiri tidak berpengaruh, akan tetapi dengan takdir Allah Subhanahu wa Ta’âla. [6]

Demikian ulasan singkat ini. Semoga bermanfaat.

Tengaran, 19101438
Yang sedang belajar mengeja, Abu ‘Aashim Nanang Ismail as-Sibindunji.

Catatan Kaki:
[1] HR Ahmad dan Abu Dawud dinukil dari Fath Al-Majîd, hal. 149. Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Al-Albani. Lihat Fath Al-Majîd di Maktabah Syamilah Ver. 3.64.
[2] Lihat Fath Al-Majîd hal. 150.
[3] Lihat Shahîh Muslim no. 2200 hal. 715.
[4] Lihat Fath Al-Majîd hal. 151.
[5] Ibid.
[6] Ibid.

Daftar Pustaka:
An-Nisâbûri, Muslim bin Al Hajjâj. 2010. Shahîh Muslim. Tarqîm wa Tartîb Muhammad Fu`ad Abdul Bâqi. Kairo: Dâr Al Hadîts.
Asy-Syaikh, Abdurrahman bin Hasan. 2005. Fath Al-Majîd Syarh Kitâb At-Tauhîd. Beirut: Dâr Ibn ‘Ashâshah.
Khatibah, Ahmad. Fath Al-Majîd Syarh Kitâb At-Tauhîd. Maktabah Syamilah Ver. 3.64.

Nanang Ismail
Seorang guru dan pembelajar. Lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, pernah menjadi santri mukim di Ma'had Jamilurrahman Yogyakarta, dan alumni angkatan kedua Ma'had Online Ibnu Qudamah Bandung.
https://abuashim.com

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
Doa di Akhir Malam untuk Anak

Doa adalah senjata kita sebagai seorang muslim. Dan sebagai seorang ayah, hendaklah kita banyak mendoakan anak agar menjadi anak yang...

Close