You are here
Home > Tafsir > Tafsir Juz 'Amma > Tafsir Surat Al-Mâ’ûn

Tafsir Surat Al-Mâ’ûn

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ , فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ , وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ , فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ , الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ , الَّذِينَ هُمْ  يُرَاءُونَ , وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al-Mâ’ûn [107]: 1 – 7)

Asbâbun Nuzûl

Al-Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân (10/437) berkata,

“Para ulama berbeda pendapat terkait turunnya surat ini. Disebutkan bahwa surat ini turun mengenai Al-Ash bin Wail as-Sahmi. Adh-Dhahak meriwayatkan bahwa surat ini turun mengenai seorang lelaki dari kalangan munafiqin. Sedangkan As-Suddi menyampaikan bahwa surat ini turun mengenai Al-Walid bin Mughirah dan dikatakan mengenai Abu Jahal. Sedangkan Ibnu Jarij berkata, ‘Surat ini turun mengenai Abu Sufyan. Dia biasa menyembelih unta atau kambing setiap pekan, lalu ada anak yatim yang meminta sesuatu darinya maka Abu Sufyan memukul anak yatim itu dengan tongkatnya. Kemudian, Allah Subhânahu wa Ta’âla menurunkan surat ini.”

Imam Al-Wahidi an-Nisaburi rahimahullâhu dalam Asbâbun Nuzûl (hal. 721) mengatakan,

“Muqatil dan Al-Kalbi berkata, bahwa ayat ini turun mengenai Al-Ash bin Wail as-Sahmi. Ibnu Juraij berkata, Abu Sufyan pada setiap pekan mengadakan penyembelihan. Lalu datang anak yatim datang kepadaya untuk meminta sesuatu darinya. Namun ia (Abu Sufyan) mengundi dan menolak sebagiannya. Lalu Allah Ta’âla menurunkan ayat: ‘Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.’ (QS Al-Mâ’ûn [107]: 1 – 2).”

Kandungan Surat

Firman-Nya,

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?”  (QS Al-Mâ’ûn [107]: 1)

Maksudnya ialah mereka mendustakan hari kebangkitan dan pembalasan. (Al-Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân,10/437)

Maka mereka merupakan orang-orang yangtidak beriman dengan apa-apa yang dibawa oleh rasul-Nya. (Taisirul Karîmirrahmân, 1105)

Firman-Nya,

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

“Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (QS Al-Mâ’ûn [107]: 2)

Menolak anak yatim dari haknya. Qatadah berkata, “Memaksa dan menzhaliminya.” (Al-Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân,10/437)

Menolak anak yatim dengan keras. Tidak memiliki rasa sayang karena keras hatinya. Oleh karena itu, orang yang bertipe seperti ini merupakan orang yang tidak mengharapkan pahala dan tidak takut akan hukuman Allah Ta’âla. (Taisirul Karîmirrahmân, 1105)

Firman-Nya,

وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS Al-Mâ’ûn [107]: 3)

Maksudnya ialah tidak memerintahkannya, suka menunda-nunda dengan kekikirannya, dan mendustakan hari pembalasan.Mereka tidak mengerjakan ketika mereka mampu, dan mereka tidak menganjurkannya jika anak-anak yatim itu kesulitan. (Al-Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân, 10/437-438)

Dia tidak menganjurkan orang lain, lebih-lebih lagi, dia sendiri tidak memberi makan orang miskin.(Taisirul Karîmirrahmân, 1105)

Firman-Nya,

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat.” (QS Al-Mâ’ûn [107]: 4)

Yakni adzab bagi mereka. (Al-Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân,10/438)

Yaitu bagi orang-orang yang senantiasa menegakkan shalat akan tetapi mereka lalai dari shalatnya. (Taisirul Karîmirrahmân, 1105)

Firman-Nya,

الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS Al-Mâ’ûn [107]: 5)

Diriwayatkan dari Adh-Dhahak dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallâhu ‘anhu. Dia berkata, “Mereka adalah orang-orang yang shalat yang ketika shalat mereka tidak mengharapkan pahala dan ketika meninggalkan shalat mereka tidak khawatir ditimpa hukuman.”

Dan dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallâhu ‘anhu juga, “Mereka adalah orang-orang yang mengakhirkan shalat dari waktunya.” Dan hal ini pun diriwayatkan Al-Mughirah dari Ibrahim bahwa orang-orang yang lalai disandarkan maksudnya kepada waktu. Abul ‘Aliyah mengatakan, “Mereka tidak shalat sesuai waktunya dan tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya.” (Al-Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân, 10/438)

Mereka merupakan orang-orang yang menyia-nyiakan, tidak shalat hingga waktunya berlalu dan tidak memnuhi rukun-rukunnya. Hal ini disebabkan mereka tidak mengindahkan perintah Allah Subhânahu wa Ta’âla, karena mereka melalaikan shalat yang merupakan ketaatan yang paling utama. Melalaikan shalat membuat pelakunya berhak untuj mendapatkan celaan dan hinaan. Berbeda dengan orang yang lupa pada saat shalat, karena siapa saja bisa lupa, termasuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallâm. (Taisirul Karîmirrahmân, 1105)

Firman-Nya,

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

orang-orang yang berbuat riya” (QS Al-Mâ’ûn [107]: 6)

Karena itu Allah Subhânahu wa Ta’âla menyebutkan sifat mereka sebagai orang-orang yang berbuat riya, keras hati, dan tidak memiliki belas kasih. Orang-orang yang berbuat riya adalah orang-orang yang jika melakukan pekerjaan untuk dilihat orang lain. (Taisirul Karîmirrahmân, 1105)

Hakikat riya ialah menuntut sesuatu dari dunia dengan ibadah dan asalnya yaitu menuntut kedudukan di dalam hati manusia. Yang macamnya ada empat hal:

Pertama, ingin dipuji. Yang dengan hal ini dimaksudkan agar memeroleh kedudukan dan pujian,

Kedua, karena pakaian. Maksudnya ialah riya dengan pakaian yang terbatas dan berbahan kasar. Dengan hal ini maka ia bermaksud mendapatkan cara zuhud di dunia.

Ketiga, riya dengan perkataan dengan menampakkan kesalahan atas ahlud dunya; dan menampakkan nasehat dan kesedihan  atas setiap orang yang tertinggal dari mengerjakan kebaikan dan ketaatan.

Keempat, riya dengan menampakkan shalat dan sedekah atau memperbagus shalat agar dilihat oleh orang lain. Maka karena maksud tersebut dia memperpanjang shalatnya. (Al-Jâmi’u li Ahkâmil Qur`ân, 10/439)

Firman-Nya,

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

“dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al-Mâ’ûn [107]: 7)

Yaitu enggan memberikan sesuatu yang tidak memudharatkan untuk diberikan dengan cara dipinjamkan atau dihibahkan seperti bejana, gayung, kapak, dan lainnya yang biasa diberikan atau direlakan. Mereka itu karena amat kikir, enggan memberikan barang-barang yang berguna. Lantas bagaimana halnya dengan benda yang lebih besar nilainya? (Taisirul Karîmirrahmân, 1105)

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullâh menyebutkan terkait ayat di atas bahwa ada sepuluh pendapat tentang masalah ini. Mulai dari zakat, harta, setiap nama barang yang bermanfaat yang ada di rumah, barang-barang berharga, pinjaman, dan lainnya. Silakan merujuk ke kitab tafsir beliau untuk mengetahui lebih lengkap tentang permasalahan ini.

Faedah Surat

  1. Mengimani hari kebangkitan dan hari pembalasan.
  2. Mengasihi anak yatim.
  3. Anjuran serta dorongan untuk memberi makan anak yatim dan orang miskin.
  4. Senantiasa untuk dapat menjaga dan memelihara shalat.
  5. Celaan terhadap orang-orang yang melalaikan shalatnya.
  6. Menunaikan dengan ikhlas setiap amalan yang dilakukan hanya karena Allah Ta’âla.
  7. Dorongan untuk mengerjakan kebajikan.
  8. Mau meminjamkan atau memberikan benda-benda yang berguna.

Wallâhu ‘alam.
Semoga bermanfaat.

Ketika langit menghitam di Tengaran, 09031439
Abu ‘Aashim Nanang Ismail as-Sibindunji

Artikel: abuashim.com

Nanang Ismail
Seorang guru dan pembelajar. Lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, pernah menjadi santri mukim di Ma'had Jamilurrahman Yogyakarta, dan alumni angkatan kedua Ma'had Online Ibnu Qudamah Bandung.
https://abuashim.com

2 thoughts on “Tafsir Surat Al-Mâ’ûn

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
Mendidik Anak dengan Kisah

Disela-sela pengamatan terhadap realita yang menyedihkan tentang pentingnya pendidikan sebagai faktor prinsip dalam menyiapkan generasi yang bermanfaat bagi umat dan...

Close