You are here
Home > WhatsApp > Syarat dan Landasan Ibadah

Syarat dan Landasan Ibadah

✅ Ahlussunnah wal Jamaah menyakini bahwa hakikat dan landasan ibadah kepada Allah Ta’ala ialah cinta yang sempurna dan ketundukan yang sempurna kepada-Nya.

Barangsiapa mencintai sesuatu yang tidak dipatuhinya, maka ia tidak menghamba kepadanya. Demikian pula, barangsiapa yang tunduk dan patuh kepada sesuatu yang tidak dicintainya, maka ia bukan menghamba kepadanya. Beribadah kepada Allah Ta’ala tidak diterima dan tidak pula diridhai-Nya sehingga terpenuhi semua syarat dan rukunnya.

👉 Syarat Ibadah
1⃣ Ikhlas yakni seseorang beribadah kepada-Nya dengan niat karena Allah, bukan karena selain-Nya. Jika meniatkannya karena selain Allah Ta’ala maka ibadahnya tidak diterima dan tidak diberi pahala.

2⃣ Sesuai syariat Allah. Yakni ibadah terebut, dalam waktu dan tata caranya, sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya. Tidak boleh menambah atau mengurangi syariat-Nya, maupun melakukan inovasi dalam ibadah.

👉 Dasar Ibadah
Ibadah kepada Allah Ta’ala wajib terfokus pada tiga landasan:
1⃣ Mahabbah (cinta)
2⃣ Khauf (takut)
3⃣ Raja’ (harap)

1⃣ Mahabbah (cinta)
Ini merupakan dasar yang paling penting. Cinta adalah dasar ibadah. Karenanya, setiap hamba wajib mencintai Allah, mencintai segala hal yang dicintai-Nya berupa ketaatan, membenci segala hal yang dibenci-Nya berupa kemaksiatan, mencintai semua kekasih-Nya yaitu orang-orang yang beriman; terutama para rasul-Nya, dan membenci semua musuh-Nya dari kalangan kaum kafir dan kaum munafik. Semua ini adalah kewajiban atas setiap muslim yang tidak ada alternatif lain baginya.

2⃣ Khauf (takut) kepada Allah
Khauf adalah pedihnya hati karena melakukan suatu yang dibenci. Seorang muslim wajib beribadah kepada Allah karena takut terhadap siksa-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

فلا تخافوهم وخافون إن كنتم مؤمنين

Karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS Ali Imran: 175)

فلا تخشوا الناس واخشون

Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS Al Maidah: 44)

Rasa takut yang terpuji dan jujur, ialah rasa takut yang dapat menghalangi seorang hamba dari perbuatan maksiat.

3⃣ Raja’ (harap)
Ar Raja’ ialah menginginkan pahala dari Allah Ta’ala dan ampunan-Nya, serta menanti rahmat-Nya.

Raja’ ada tiga macam; dua di antaranya terpuji dan yang ketika tercela.
➡ Harapan orang yang taat kepada Allah agar amalnya diterima dan diberi pahala.

➡ Harapan orang yang melakukan perbuatan dosa kemudian bertaubat agar Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosanya.

➡ Harapan orang yang lalai dalam menunaikan kewajiban, terjerumus kepada perbuatan haram, dan terus menerus melakukannya. Kendati demikian, ia mengharapkan rahmat Allah. Ini adalah tipuan, angan-angan, dan harapan dusta.

📗 Diringkas dari Tahdzib Tashil Al-Aqidah Al-Islamiyyah karya Syaikh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin.

✏ Abahnya ‘Aashim

Nanang Ismail
Seorang guru dan pembelajar. Lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, pernah menjadi santri mukim di Ma'had Jamilurrahman Yogyakarta, dan alumni angkatan kedua Ma'had Online Ibnu Qudamah Bandung.
https://abuashim.com

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
Apa Madzhab Syaikh Ibnu Baz?

Pertanyaan: Dengan madzhab apa Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullâhu memberi fatwa? Jawaban: Al-Allamah Ibnu Baz rahimahullâhu beliau memperdalami fiqih...

Close