You are here
Home > Fatwa Ulama > Fatwa Ulama Tentang Berbuat Curang Ketika Ujian

Fatwa Ulama Tentang Berbuat Curang Ketika Ujian

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahumullah ditanya : Apa hukum berbuat curang (menyontek) ketika ujian ? Saya lihat, banyak mahasiswa yang melakukan kecurangan lalu saya menasehati mereka, tapi mereka malah mengatakan ‘ini tidak apa-apa’.

Jawaban:
Curang dalam ujian, ibadah atau mu’amalah hukumnya haram, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami.” (Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101).

Disamping itu, hal tersebut dapat menimbulkan banyak madharat baik di dunia maupun di akhirat. Maka seharusnya menghindari perbuatan tersebut dan saling mengingatkan untuk meninggalkannya.

[Al-Fatawa, Kitab Ad-Da’wah, hal. 157, Syaikh bin Baz]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahumullah ditanya : Saya seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota Riyadh, saya perhatikan sebagian mahasiswa melakukan kecurangan dalam ujian, terutama pada sebagian materi yang di antaranya materi bahasa Inggris, ketika saya berdialog dengan mereka mengenai hal ini, mereka mengatakan, “Berbuat curang dalam mata pelajaran bahasa Inggris tidak haram, sebagian Syaikh telah menfatwakan demikian”. Saya mohon penjelasan tentang masalah ini dan fatwa tersebut.

Jawaban:
Telah disebutkan dalam sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami.” (Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101).

Ini mencakup semua bentuk kecurangan dalam mu’amalah dan ujian, mencakup pula materi bahasa Inggris dan lainnya. Maka para mahasiswa dan mahasiswi tidak boleh berbuat curang dalam semua materi karena keumuman hadits tersebut. Hanya Allah lah sumber petunjuk.

[Al-Fatawa, Kitab Ad-da’wah, hal. 58, Syaikh Ibnu Baz]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahumullah ditanya : Apakah boleh berlaku curang dalam ujian, terutama dalam materi bahasa Inggris yang dianggap tidak ada manfaatnya bagi para siswa?

Jawaban:
Tidak boleh melakukan kecurangan dalam ujian, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kami.” (Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101).

Lagi pula, hal itu mengandung madharat bagi umat, sebab jika para pelajar telah terbiasa berbuat curang, maka standard keilmuan mereka lemah, sehingga secara umum umat ini tidak mapan peradabannya dan membutuhkan orang lain, dan tentunya dengan begitu kehidupan umat ini menjadi kehidupan yang sulit. Maka tidak ada perbedaan antara materi bahasa Inggris dan materi lainnya, karena masing-masing materi itu memang dituntut dari para pelajar.

Adapun pernyataan penanya bahwa materi tersebut tidak bermanfaat, sama sekali tidak benar, karena terkadang materi itu memiliki manfaat yang besar. Bagaimana menurut Anda, jika Anda hendak mengajak suatu kaum untuk memeluk Islam sementara mereka hanya bisa berbahasa Inggris? Bukankah dalam hal ini bahasa Inggris sangat bermanfaat? Betapa banyak kondisi di mana kita berharap menguasai suatu bahasa yang bisa saling dimengerti bersama lawan bicara kita.

[Kitab Ad-Dakwah (5), Syaikh Ibnu Utsaimin 2/61]

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin rahimahumullah ditanya : Apa hukum berbuat curang dalam ujian bahasa Inggris atau ilmu-ilmu pasti semacam Matematika dan yang lainnya?

Jawaban:
Tidak boleh berbuat curang dalam materi apapun, karena maksud ujian tersebut adalah untuk mengukur dan mengevaluasi kemampuan siswa dalam materi yang bersangkutan. Lain dari itu, kecurangan itu mengandung kemalasan dan penipuan serta bisa mendahulukan yang lemah daripada yang rajin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mencurangi kami maka bukan dari golongan kamim” (Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Iman no 101).

Makna curang di sini mencakup semua perkara. Wallahu ‘alam.

[Fatawa Al-Mar’ah, Syaikh Ibnu Jibrin, hal. 111]

Pertanyaan:
Saya mencontek jawaban teman sekelas saat ujian dengan menempuh suatu cara yang memungkinkan, karena saya tidak tahu jawabannya. Bagaimana pendapat agama tentang hal ini?

Jawaban:
Tidak boleh berbuat curang dalam ujian dan tidak boleh membantu orang yang curang dalam hal ini, baik dengan bisikan atau menunjukkan jawaban kepada yang di sebelahnya untuk dicontek atau dengan upaya-upaya lainnya, karena hal ini bisa menimbulkan madharat terhadap masyarakat, di mana berbuat yang curang itu telah mendapat predikat yang tidak berhak diraihnya, sehinga ia bisa memegang tugas yang tidak dikuasainya. Yang demikian itu akan menimbulkan madharat dan tipuan. Wallahu ‘alam.

[Fatawa Al-Mar’ah, Syaikh Ibnu Jibrin, hal.113] 1).

Kesimpulan dari fatwa Masyayikh di atas ialah:
1. Curang dalam ujian, ibadah atau mu’amalah hukumnya haram.
2. Perbuatan curang dapat menimbulkan mudharat di dunia dan di akhirat.
3. Jika para pelajar telah terbiasa berbuat curang, maka standard keilmuan mereka lemah, sehingga secara umum umat ini tidak mapan peradabannya dan membutuhkan orang lain.
4. Boleh mempelajari bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya untuk kemashlahatan dakwah.
5. Maksud adanya ujian adalah untuk mengukur dan mengevaluasi kemampuan siswa dalam suatu materi.
6. Tidak boleh berbuat curang dan tidak boleh membantu orang yang berbuat curang.

Wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Tengaran, 14 Rajab 1436
Nanang Ismail as-Sibindunji

________
Catatan kaki:
1) Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerbit Darul Haq. Sumber www.almanhaj.or.id.

#Edisi_repost

Nanang Ismail
Seorang guru dan pembelajar. Lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, pernah menjadi santri mukim di Ma'had Jamilurrahman Yogyakarta, dan alumni angkatan kedua Ma'had Online Ibnu Qudamah Bandung.
https://abuashim.com

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
Mana yang Lebih Baik Bagi Muslimah, Menuntut Ilmu atau Mengurus Rumah?

Pertanyaan: Mana yang lebih baik bagi seorang muslimah, mengurus rumah dan suaminya, atau mencurahkan waktunya untuk menuntut ilmu, dan memiliki...

Close