You are here
Home > Posts tagged "Hanabilah"

Fatwa Ulama Tentang Berbuat Curang Ketika Ujian

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahumullah ditanya : Apa hukum berbuat curang (menyontek) ketika ujian ? Saya lihat, banyak mahasiswa yang melakukan kecurangan lalu saya menasehati mereka, tapi mereka malah mengatakan 'ini tidak apa-apa'. Jawaban: Curang dalam ujian, ibadah atau mu’amalah hukumnya haram, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Artinya : Barangsiapa mencurangi

Umdatul Fiqih [0] – Muqaddimah

Kitab ‘Umdatul Fiqhi ‘ala Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal merupakan kitab untuk para pemula dalam mempelajari fiqih Hanabilah. Kitab ini berisi permasalahan-permasalahan fiqih menurut satu pendapat dalam Madzhab Hanbali. Dalam kitab ini, Al-Muwaffaq Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullahu tidak menyebutkan banyak dalil, tetapi hanya menyebutkan beberapa dalil saja. Diharapkan, orang

10 Pembatal Keislaman

اعْلَمْ أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة الأَوَّلُ: الشِّرْكُ فِي عِبَادَةِ اللهِ، وَالدَلِيلُ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء وَمِنْهُ الذَّبْحُ لِغَيْرِ اللهِ، كَمَنْ يَذْبَحُ لِلْجِنِّ أَوْ لِلْقَبْرِ Ketahuilah bahwa termasuk pembatal keislaman terbesar ada 10 yaitu: Pertama: syirik dalam beribadah kepada-Nya. Dalilnya adalah

4 Prinsip Mengetahui Kesyirikan

أسْأَلُ اللهَ الْكَرِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَتَوَلاكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَأَنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكًا أَيْنَمَا كُنْتَ، وَأَنْ يَجْعَلَكَ مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإِذَا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإِذَا أذَنبَ اسْتَغْفَرَ. فَإِنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثُ عُنْوَانُ السَّعَادَةِ. Aku memohon kepada Allah yang Mahamulia Rabb ‘Arsy yang agung semoga Dia menjagamu di dunia dan di akhirat

3 Prinsip dalam Beragama

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم Empat Kewajiban Setiap Muslim Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu– bahwa wajib bagi kita mempelajari empat hal: Pertama: ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam disertai dalil-dalinya. Kedua: mengamalkannya. Ketiga: mendakwahkannya. Keempat: sabar atas gangguan dalam melaksanakannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,  وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ

Kotoran Kucing Najiskah?

Disebutkan bahwa ada seorang budak wanita yang mengantarkan makanan untuk Ummul Mukminin Âisyah radhiallâhu ‘anha, tapi ketika itu beliau sedang shalat. Kemudian budak ini meletakkan makanannya. Tiba-tiba seekor kucing menghampiri dan memakan makanan tersebut. Setelah Âisyah radhiallâhu ‘anha selesai, beliau memakan bekas gigitan kucing. Kemudian Aisyah menceritakan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallâm bersabda, إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ

Bolehkah Menghadiri Resepsi Pernikahan Non-Muslim?

Sebagai makhluk sosial, kita dituntut untuk bermuamalah dengan masyarakat muslim maupun non-muslim. Salah satu bentuk muamalah ialah menghadiri walimatul ‘ursy atau resepsi pernikahan. Jika yang mengundang acara tersebut sesama muslim tentu hal ini tidak masalah bahkan hukumnya wajib menghadirinya. Lalu, bagaimana jika yang mengundang tersebut ialah seorang non-muslim? Apakah wajib

Bolehkah Bermadzhab? (Rincian Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Pertanyaan: Apa hukum bermadzhab? Apakah bermadzhab termasuk perbuatan tercela? Apa hukum menyandarkan diri kepada madzhab tertentu seperti Al-Hambali, Asy-Syafi’i dan Al-Maliki? Asy-Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab: “Permasalahan ini memiliki tiga perincian: Pertama, seorang yang memiliki kemampuan ilmiyyah dan keahlian ijtihad, artinya syarat-syarat berijtihad telah ada pada dirinya, maka ia tidak boleh bermadzhab, bahkan

Bolehnya Bermadzhab

Dalam ta’liq atas pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh yang menukil pendapat Hanabilah, tentang lemahnya pendapat yang membolehkan bertasbih ketika ruku dan sujud yang lamanya sekitar seratus ayat; Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullâh berkata: “Dan menurut sahabat kami, yakni Hanabilah. Hal di atas merupakan dalil bolehnya seseorang untuk menisbatkan diri

Apa Madzhab Syaikh Ibnu Baz?

Pertanyaan: Dengan madzhab apa Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullâhu memberi fatwa? Jawaban: Al-Allamah Ibnu Baz rahimahullâhu beliau memperdalami fiqih di atas madzhab Hanbali. Madzhab tersebut merupakan madzhab yang umumnya dianut di negeri beliau. Akan tetapi, beliau rahimahullâhu biasa berpendapat dengan dalil dan hadits shahih ketika memang ada petunjuk untuk berpegang dengannya, walaupun menyelisihi

Top