You are here
Home > Fatwa Ulama > Hukum Mencium Tangan

Hukum Mencium Tangan

Apa hukum mencium tangan para ulama dan selainnya?

Segala puji bagi Allah Ta’ala, shalawat serta salam dan keberkahan semoga terlimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Amma ba’du,

Jumhur ulama salaf maupun khalaf dari madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah menilai bolehnya mencium tangan ulama, imam, orang tua, guru, dan orang yang memiliki keutamaan sebagai penghormatan dan penghargaan. Adapun Imam Malik menilai, mencium tangan orang lain dilarang ketika mengucapkan salam kepadanya. Bahkan beliau mengecamnya. Demikian pendapat beliau dalam “al-Fawakih al-Diwany” (2 326):

وظاهر كلامه، ولو كان ذو اليد عالماً أو شيخاً أو سيداً أو والداً حاضراً أو قادماً من سفر

“Nampaknya, menurut pendapat beliau walaupun itu tangan ulama, syaikh, sayyid, atau orang tua baik ketika datang maupun pergi safar.” Demikianlah pendapat di madzhab ini, yaitu Malikiyah.

Para ulama mengumpulkan berbagai riwayat tentang hal ini dalam pembahasan tersendiri. Ibnu Hajar berpendapat dalam Fathul Bari (11/57), Al-Hafidz Abu Bakar bin Muqri mengumpulkannya dalam bab tersendiri tentang mencium tangan. Di dalamnya terkumpul banyak hadis dan atsar. Diantara yang utama adalah hadis az-Zari’ al-‘Abdi, pendapat yang lain dari Abdul Qais beliau berkata:

فجعلنا نتبادر من رواحلنا فنقبِّل يد النبي

“Lalu kami bersegera meninggalkan dagangan kami dan segera mencium tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaki beliau.” (HR Abu Dawud)

Demikian pula hadis dari Mazidah al-‘Ashry dan hadis dari Usamah bin Syarik, berkata:

قمنا إلى النبي فقبَّلنا يده

Kami berdiri menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kami mencium tangan beliau. Sanad hadis ini kuat. Dan hadis dari Jabir bahwasanya Umar berdiri menyambut Nabi lalu mencium tangan beliau.

Dan hadis dari Buraidah dalam kisah orang arab kampung dan sebuah pohon, ia berkata:

يا رسول الله ائذن لي أن أُقبِّل رأسك ورجليك فأذن له

“Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamizinkanlah aku mencium kepala anda dan kedua kaki anda; lalu beliau mengizinkan.”

Demikian juga hadis riwayat al-Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad dari riwayat Abdurrahman bin Razin berkata:

أخرج لنا سلمة بن الأكوع كفّاً له ضخمة كأنها كف بعير فقمنا إليها فقبلناها

“Salamah bin al-Akwa’ mengeluarkan  telapak tangannya yang besar seperti telapak onta, lalu kami berdiri menyambutnya dan menciumnya.” Dan dari Tsabit diceritakan bahwasanya ia mencium tangan Anas. Demikian juga Ali mencium tangan dan kaki Al-‘Abbas. (HR Ibnul Muqri)

Dan dikeluarkan dari jalan Abu Malik al-Asyja’i berkata: Aku berkata kepada Ibnu Abi Aufa:

ناولني يدك التي بايعت بها رسول الله فناولنيها فقبلتها

Ulurkanlah tanganmu padaku di mana engkau membaiat Rasulullah dengannya, lalu ia mengulurkannya dan aku menciumnya.

Hal ini menunjukkan bolehnya mencium tangan selama tidak dikhawatirkan adanya ghurur dan fitnah. Adapun larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap seorang laki-laki yang hendak mencium tangannya , adalah sabda beliau :

هذا إنما يفعله الأعاجم بملوكها إنما أنا رجل منكم

Sesungguhnya yang dilakukan orang asing ini adalah yang biasa dilakukannya terhadap raja-raja mereka, padahal aku adalah orang seperti kalian.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Ausath juga Al-Baihaqi dalam Asy-Sya’b dan Abu Ya’la dalam musnadnya yang semuanya dari jalan Yusuf bin Ziyad al-Wasithi dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am al-Ifriqy dari al-Aghri Abu Muslim dari Abu Hurairah dan semuanya dari Yusuf bin Ziyad al-Wasithi adapun gurunya dhaif menurut asy-Syaukani dalam Nailul Authar 2/103 : “Obyek pembicaraan di sini adalah Yusuf bin Ziyad al-Wasithi, dia dhaif dari guru Abdurrahman bin Ziyd bin An’am al-Ifriqy yang juga dhaif.” Dengan demikian tidak dapat mengalahkan atsar-astar yang menunjukkan bolehnya mencium tangan.

Wallahu a’lam.

Syaikh Prof. Dr. Khalid al-Mushlih

Sumber: https://almosleh.com/ar/index-ar-show-16454.html

Nanang Ismail
Seorang guru dan pembelajar. Lulusan S1 Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Semarang, pernah menjadi santri mukim di Ma'had Jamilurrahman Yogyakarta, dan alumni angkatan kedua Ma'had Online Ibnu Qudamah Bandung.
https://abuashim.com

Tinggalkan Balasan

Top
Read previous post:
Mengenal Al-Lajnah ad-Dâ’imah

Al-Lajnah ad-Dâ'imah lil-Buhûts al-'Ilmiyyah wal-Iftâ (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Pusat Fatwa) merupakan sebuah lembaga yang didirikan bersamaan dengan Majelis...

Close