You are here
Home > Fiqih Islam

Umdatul Fiqih [0] – Muqaddimah

Kitab ‘Umdatul Fiqhi ‘ala Madzhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal merupakan kitab untuk para pemula dalam mempelajari fiqih Hanabilah. Kitab ini berisi permasalahan-permasalahan fiqih menurut satu pendapat dalam Madzhab Hanbali. Dalam kitab ini, Al-Muwaffaq Al-Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullahu tidak menyebutkan banyak dalil, tetapi hanya menyebutkan beberapa dalil saja. Diharapkan, orang

Bolehkah Bermadzhab? (Rincian Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan)

Pertanyaan: Apa hukum bermadzhab? Apakah bermadzhab termasuk perbuatan tercela? Apa hukum menyandarkan diri kepada madzhab tertentu seperti Al-Hambali, Asy-Syafi’i dan Al-Maliki? Asy-Syaikh Dr. Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab: “Permasalahan ini memiliki tiga perincian: Pertama, seorang yang memiliki kemampuan ilmiyyah dan keahlian ijtihad, artinya syarat-syarat berijtihad telah ada pada dirinya, maka ia tidak boleh bermadzhab, bahkan

Bolehnya Bermadzhab

Dalam ta’liq atas pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâh yang menukil pendapat Hanabilah, tentang lemahnya pendapat yang membolehkan bertasbih ketika ruku dan sujud yang lamanya sekitar seratus ayat; Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullâh berkata: “Dan menurut sahabat kami, yakni Hanabilah. Hal di atas merupakan dalil bolehnya seseorang untuk menisbatkan diri

Hukum Memakai Niqab

Cadar Sudah Ada Sejak Zaman Nabi Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita yang akan berihram. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada para wanita, لاَ تَنْتَقِبُ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقَفَّازَيْنِ “Wanita yang berihram itu tidak boleh mengenakan niqab maupun kaos tangan.” Niqab adalah kain penutup wajah mulai dari hidung atau dari bawah

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [8]

Saddu Dzarai’ Yaitu melarang suatu hal yang zhahirnya adalah boleh jika hal tersebut menjadi sarana terjadinya hal yang haram. (Lihat: Al-Fatawa al-Kubra, 3/256 dan I’lam al-Muwaqqi’i, 3/135). Dan dasar hukum ini terbangun atas kenyataan bahwa ibrah (yang menjadi pertimbangan) dalam syarat adalah tujuan dan niat, dan bahwa mempertimbangkan konsekuensi dan akibat perbuatan adalah diakui

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [7]

Istishhab Adalah melestarikan penetapan yang telah ditetapkan sebelumnya atau peniadaan apa yang tidak ada sebelumnya. Atau yang dimaksud adalah tetap pada hukum asal dalam hal yang belum diketahui ketetapannya atau ketiadaannya dnegan hukum syar’i. (Lihat: Majmu’ Fatawa, 11/342). Dan istishhab adalah hujjah menurut Imam Ahmad rahimahullahu ketika tidak ada dalil yang berupa nash, atau ijma’,

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [6]

Istihsan Adalah meninggalkan keniscayaan qiyas kepada dalil yang menurut seorang mujtahid lebih kuat darinya; dan jenis istihsan ini diakui oleh Imam Ahmad rahimahullahu karena dalil tersebut menguatkannya. Dan jika ia tidak memiliki sandaran kecuali hawa nafsu, maka ini yang diingkari oleh Imam Ahmad. (Lihat: Al-‘Uddah fi Ushul Fiqih, 4/1604; Raudhatun an-Nadhir, 2/31; dan Ushul Madzhab Imam

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [5]

Qiyas Dan qiyas yang diakui Imam Ahmad rahimahullahu adalah qiyas masalah furu’ pada permasalahan pokok yang ada nashnya jika menyerupainya dalam segala hal, dan disebut dnegan qiyyas ‘illah. Imam Ahmad mengatakan dalam riwayat Al-Hasan bin Hasan: “Qiyas adalah menganalogikan sesuatu kepada hukum pokok jika semisal dengannya dalam segala hal.” (Lihat: Al-Musawwadah, hal. 732). Dan di

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [4]

Mengambil Hadits Mursal dan Lemah sebagai Dalil Jika Tidak Ada Dalil yang Menyanggah Persoalan Tersebut Hadits mursl adalah hadits yang sanad terakhirnya setelah tabi’in terputus. Atau apa yang dinisbatkan olrh tabi’in kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; di mana seorang tabi’in mengatakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda”. Dan ini adalah pengertian hadits

Ushul Istinbath dalam Madzhab Hanbali [3]

Fatwa Sahabat Jika Tidak Ada yang Menentangnya Jika Imam Ahmad rahimahullahu menemukan fatwa dari beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diketahui ada yang menentangnya, maka ia menggunakannya dan tidak beralih pada yang lain, dan ia mendahulukannya atas pendapat, amal –bisa jadi yang dimaksud di sini ialah amal penduduk Madina–, qiyas, hadits mursal,

Top