You are here
Home > Sastraku

Subuh Sampai Magrib Suatu Hari pada Awal Abad Lima Belas

Karya Taufik Ismail Matahari bagai berenang Nyaris tenggelam meninggalkan malam Di suatu tempat di lautan Di Barat sana Bagai sebuah terompah yang pijar, Terompah kuda yang pijar Dicelup di ember apar Kurasakan percikan panas Dan dengar Ketika bola api itu Sepenuhnya tenggelam Abad XV Langit menawarkan garis-garis cahaya Engkau mungkin seperti jamaknya Cuma Menduga-duga Mungin ada pelangi seperempat lingkaran Dan sekawanan unggas beterbangan di bawahnya Mungkin ada langit bersih Dan

Jadilah Anak-Anak Akhirat!

وإرتحلت الآخرة مقبلةً و لكلّ واحدةٍ منهما بَنُوْن فكونوا من أبناء الآخرة و لا تكونوا من أبناء الدنيا فإنّ اليوم عمل و لا حساب و غداً حساب و لا عمل Sesungguhnya dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak, karenanya hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat, bukan menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini

Syair Gundu

Ssst ... Jangan berisik Dia sedang terlelap dalam pelukan indungnya Tangan mungilnya merangkul pundak sang ibu  Dengan nafas teratur satu-satu Melepaskan lelah seharian bermain gundu . Ssst ... Jangan berisik Biarkan ia terlelap Agar esok kembali gempita gegap . Manebet, 17041439 #gundu #kelereng #lelap 

Syair Burung Camar

Entah apa yang akan kutuliskan, syair kerinduan atau kesepian? . Aku bisa saja tak menatap rembulan, tapi aku tak 'kan mampu untuk terus diam tanpa sang camar yang sedang jauh dari tepian. . #syairburungcamar #camar #rindu #rembulan Di penghujung malam, 15 Rabi'ul Akhir 1439.

Top